h1

99 Cahaya di Langit Eropa

November 18, 2012

Perjalanan Menapak Jejak Islam Di Eropa

Penulis: Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra

Penerbit: PT. Gramedia Jakarta

Cetakan Pertama 2011, 392 Halaman

“Silakan dibaca, kamu pasti suka!” begitu kata seorang teman waktu itu. Saya ingat  pernah melihat buku itu di deretan buku best seller beberapa waktu lalu di toko buku besar di Jakarta.  Sepertinya saya suka dan tebakan dia benar, saya benar-benar suka bukunya.

Bukan sebuah perjalanan wisata biasa di Eropa, tapi menapaki jejak peradapan Islam di benua  tersebut. Walaupun ditulis Hanum dengan gaya bertutur sebagaimana halnya novel fiksi, tapi menurutku penggambaran latarnya benar-benar nyata.

Saya seperti dibawa ke Paris,  berdiri terpesona di depan musée du Louvre. Seolah-olah saya yang melihat-lihat Napoleon Hall sambil menunggu Marion selesai mengantri tiket. Ikut berdesakan dengan pengunjung lain, ikut menerka-nerka tulisan Kufic – seni kaligrafi Arab kuno-  di kerudung yang dipakai oleh Bunda Maria. Lalu ikutan menunggu-nunggu Marion memberikan penjelasan kenapa tulisan yang ternyata laailahaillallah -yang merupakan sendi utama dalam aqidah islam bisa muncul di lukisan itu. Dan juga terheran-heran sebab yang melukis bukanlah seniman muslim.

Saya lalu mengikuti perjalanan Hanum berikutnya ke Cordoba. Seperti saya juga berada di depan Mezquita, mengagumi deretan pilarnya, langit langitnya. Mengagumi air mancur di pelataran masjid yang dinamai Patio de Los Narajos yang dipenuhi pohon-pohon jeruk. Di Cordoba ini dulunya Islam pernah berjaya, dimana toleransi antar umat beragama dijunjung tinggi antar umat beragama yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Sampai akhirnya ditaklukkan oleh Isabella dan Ferdinand. Penduduk Cordoba dipaksa masuk kristen dengan makan babi sebagai bukti kesetiaan. Saya kemudian mengikuti perjalanan selanjutnya ke Al hambra di Granada -tempat dimana dinasti Islam terakhir yang bertahan di Spanyol.

Kemudian aku mengikuti perjalanan selanjutnya ke negara yang mempunyai satu kaki di Eropa dan satu kaki lagi di Asia, yaitu Turki. Sebelum dipindahkan ke Ankara, pusat pemerintahan Turki ada di Istanbul. Adalah Hagia Sophia- yang sekarang dijadikan museum menjadi tujuan utama. Dulunya adalah sebuah gereja yang dialihfungsikan sebagai masjid. Pada perkembangannya, di depan Hagia Sophia tersebut didirikan sebuah masjid, yang dinamai Masjid Biru yang tidak kalah megah dari Hagia Sophia, seolah-olah berkata peradapan Islam tidak kalah dengan peradapan Byzantium. Perjalanan dilanjutkan ke istana Topkapi.

Bagimana dengan perjalanan-perjalanan lainnya yang tidak aku sebutkan?  Lalu bagaimana perjalanan menuju titik nol? Tentu membaca  cerita Hanum langsung dari bukunya lebih menarik daripada penuturan dari orang lain yang menguntit perjalanannya. Seandainya nanti tidak mempunyai kesempatan berkunjung ke tempat-tempat itu atau jika umur yang tidak panjang, saya berterima kasih sekali pada Hanum yang sudah membawa imajinasi ke tempat-tempat yang luar biasa itu.

Membaca buku ini juga membangkitkan kembali semangat dan kepercayaan diri tentang identitas sebagai seorang muslim. Bahwa Islam pernah berjaya sampai ke benua Eropa dan meninggalkan jejak kejayaannya di sana. Bisa menjawab pertanyaan “Apa yang membuat Islam berjaya pada masa itu?  Perang kah? ” Ternyata tidak sebab perang hanya menghancurkan peradaban.  Bukankah sebuah peradapan mencapai pusat  kejayaannya, masyarakatnya hidup sejahtera. Islam mengalami masa kejayaan itu dikala masa kegelapan melanda Eropa. Yang mereka –lebih senang menyebut sebagai zaman pertengahan, sebelum munculnya renaisance di Eropa.

Lalu kenapa kenapa sekarang Islam mundur? Dicap sebagai teroris dan suka berperang. Nabi kita dilecehkan?  Bahkan di negara barat muncul semacam islamophobia. Miris mengingat ini. Yang benar saja takut pada Islam?

Mau tidak mau kita harus menerima kenyataan itu. Begitulah pandangan sebagian orang kepada umat Islam. Seperti pepatah Minang, lurah indak babatu, ijuak ndak basaga.  Tidak ada lagi rasa segan orang terhadap kita. Tidak ada pelindung, tidak ada kebanggaan membuat orang mudah sekali menremehkan kita.

Membaca buku itu, kita disentil  tentang rasa tanggung jawab untuk mengembalikan kejayaan yang permah ada.  Kembali ke ajaran Islam yang sesungguhnya yang merupakan rahmatan lilalamin (rahmat untuk keseluruhan alam). Ajaran yang tidak pernah mempertentangkan wahyu dan akal.

Mengingat wahyu yang pertama kali tutun:  Iqra’!  Bacalah. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dengan membaca, berarti menambah ilmu. Lalu firman Allah : “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat”. (Q.S. Al Mujadalah: 11) terbukti dengan berjayanya Islam, karena berjayanya ilmu pengetahuan.

***

Silakan Komen di sini :-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: